Mengurai Mata Rantai Masalah Pedagang Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima, termarjinalkan.

Menggeliatnya dunia perdagangan terutama dengan kehadiran para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Perumahan Puri Cendana sudah berlangsung cukup lama. Kenyataan ini tentunya menimbulkan persepsi beragam dari berbagai pihak.

Di satu sisi, bagi pihak luar (non warga), melihat keramaian yang ada, banyak keinginan mereka untuk membeli rumah di komplek ini, tingginya minat pembeli tentu saja sangat menguntungkan bagi Developer, harga rumah pun semakin melambung. Di sisi lain, ada sebagian warga yang menemukan lapangan kerja atau mendapatkan tambahan penghasilan dengan ikut berjualan. Ada pula warga yang merasa terganggu dengan kemacetan dan kesan semrawut yang ditimbulkan, yang menyebabkan tidak bebasnya beraktivitas keluar masuk perumahan.

Bagaimana dari sisi Pedagangnya ? Bagi warga yang membuka kios di Ruko atau rumah sepanjang Jl. Raya Puri Cendana, kehadiran PKL tentu menambah berkah dengan banyaknya pengunjung/pembeli, ini diakui oleh mereka. Namun bagi pihak PKL, rasa pahit dan manis tentunya lebih mereka rasakan selama melakukan aktivitas berjualan, dibanding warga atau para pengunjung yang hanya melihat sepintas fenomena ini.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mencoba mengurai mata rantai persoalan pokok yang sedang terjadi di Perumahan Puri Cendana khususnya, yaitu kehadiran PKL.

Menjadi PKL tentunya bukan keinginan atau cita-cita siapapun. Masalah kehadiran banyaknya PKL tentu tidak berdiri sendiri. Sulitnya mencari kerja, dan tingginya tuntutan hidup di negeri ini adalah salah satu pemicu, bagaimana masyarakat dituntut mencari berbagai peluang untuk sekedar bertahan hidup, diantaranya menjadi PKL.

Sejak terjadinya krisis moneter tahun 1998, serta beberapa kali krisis keuangan global yang menimpa hingga belum stabilnya kehidupan ekonomi di negeri ini. Ratusan ribu karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sementara ribuan tenaga kerja baru bertambah setiap tahunnya. Beberapa kali kenaikan harga BBM, membuat biaya transportasi dan harga bahan pokok terus merangkak naik. Juga biaya pendidikan,  tempat tinggal (rumah), TDL  listrik, dan lain-lain.

Secara umum, kehidupan ekonomi mikro ini tentunya telah memberikan berkah tersendiri bagi bangsa ini. Ketahanan masyarakat dalam menghadapi kesulitan ekonominya, telah terbukti menolong bangsa ini dari keterpurukan ekonomi yang lebih mendalam. Sebagai contoh, ketika peristiwa krisis moneter tahun 1998, banyak perusahaan besar yang gulung tikar, pengangguran merajalela, stress berat melanda sebagian besar masyarakat. Namun banyak pula para pelaku usaha kecil seperti para PKL, tetap eksis menjalani hidupnya, bahkan tidak sedikit cerita sukses dibalik krisis ini.

Karakter yang melekat pada diri PKL yang patut kita ambil, diantaranya : Mereka adalah pekerja keras, pantang menyerah, pantang malu, pandai mencari peluang, dan kuat menghadapi kesulitan hidup seberat apapun. Hal-hal positif inilah yang harus kita apresiasi. Sedangkan berbagai segi negatif dari diri PKL seperti : Bikin semrawut, sulit diatur, tidak tertib lingkungan, dan lain-lain, adalah satu kenyataan yang harus diperbaiki, baik oleh diri para PKL sendiri maupun oleh para pengelola lingkungan atau pemerintahan.

Mengurai mata rantai masalah PKL, ini perlu dilakukan kajian mendalam. Tulisan ini hanyalah sebagian kecil mata rantai penyebab kehadiran dan tetap eksisnya para PKL di tengah kehidupan masyarakat dan lingkungan kita. Semoga dengan mempelajari akar permasalahan ini, kita dapat lebih bijak dalam mengambil sikap atas kehadirannya.

Silahkan ditambahkan kekurangannya, sebelum penulis menyampaikan sisi kelam merebaknya Pungutan Liar yang selalu menghantui kehidupan para PKL …. !

Pos ini dipublikasikan di Bidang Perdagangan dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengurai Mata Rantai Masalah Pedagang Kaki Lima

  1. Q-Semar berkata:

    Memang tak bisa dipungkiri PKL bagai dua sisi mata uang, disatu sisi sangat dibutuhkan dan membuka peluang usaha namun disatu sisi membuat kesemerawutan. Dalam masalah PKL ini menimbulkan “PRO” dan “KONTRA” dari warga yang tinggal di Perumahan ini (baca : Puri Cendana), untuk menyelesaikan permasalahan ini kita tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja namun dari kedua sisinya.
    Mungkin permasalahan ini dapat terselesaikan bila dibentuk sebuah wadah yang khusus mengurus PKL ini dengan bekerja sama dengan pihak Developer.
    Dimana para PKL dikutip retribusi (resmi loh) sesuai dengan kesepakatan, dimana nantinya retribusi tersebut digunakan untuk mengatasi kebersihan dalam hal ini sampah yang ditinggalkan setelah berdagang atau disediakannya lahan untuk PKL ini dengan masih menarik retribusi untuk kebersihan atau mungkin ditambah dengan uang sewa lapak. Dengan disediakannya lahan khusus untuk PKL diharapkan mereka tidak lagi seenaknya berdagang disembarang tempat yang mereka mau, dan kesemerawutan akan terhindari.
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s